Wednesday, October 22, 2014

Sebuah Parodi


***

Alkisah, ada seorang muadzin bersuara jelek di negeri dengan penduduk mayoritas Kristen. Walaupun ia bersuara jelek, ia tetap percaya diri mengumandangkan adzan dan tak menghiraukan himbauan dari teman-temannya sesama muslim.

Hingga suatu ketika datanglah seorang pendeta kepada muadzin tersebut dan memberikan berbagai kemewahan dunia yang begitu melimpah sebagai tanda terimakasih yang mendalam sang pendeta kepada muadzin tersebut.

Karena penasaran, maka orang-orang Islam yang lainnya bertanya pada sang pendeta, "Wahai pendeta, kebaikan apakah kiranya yang anda peroleh dari seorang muadzin bersuara jelek ini?" 

Sang pendeta pun menjawab,
"Sesungguhnya aku mempunyai seorang putri jelita yg sangat aku sayangi dan kini sedang jatuh cinta pada seorang muslim yang saleh. Aku mengkhawatirkan, pada suatu saat nanti ia akan meninggalkanku dan agama yang kami peluk. Hingga di suatu pagi buta, putriku terbangun oleh suara adzan dan bertanya padaku, 'Ayah, suara jelek dan berisik apa itu?'

Aku pun menjawab , 'Itu adalah suara adzan, yakni panggilan sholat bagi umat Islam.'

Putriku langsung tercengang dan hampir tak percaya, bagaimana mungkin indahnya ajaran Islam yg selalu di tampilkan oleh kekasihnya memiliki panggilan beribadah sejelek itu?
Sejak saat itulah putriku menjauhi kekasihnya itu dan juga Islam untuk selamanya."

(Parodi di atas tertuang dalam al-Matsnawi, karya agung seorang sufi bernama Jalaluddin al-Rumi.)