via Qomari
Arisandi
***
Alkisah, ada seorang
muadzin bersuara jelek di negeri dengan penduduk mayoritas Kristen. Walaupun ia
bersuara jelek, ia tetap percaya diri mengumandangkan adzan dan tak
menghiraukan himbauan dari teman-temannya sesama muslim.
Hingga suatu ketika
datanglah seorang pendeta kepada muadzin tersebut dan memberikan berbagai
kemewahan dunia yang begitu melimpah sebagai tanda terimakasih yang mendalam
sang pendeta kepada muadzin tersebut.
Karena penasaran, maka orang-orang Islam yang lainnya bertanya
pada sang pendeta, "Wahai pendeta, kebaikan apakah kiranya yang anda
peroleh dari seorang muadzin bersuara jelek ini?"
Sang pendeta pun
menjawab,
"Sesungguhnya aku
mempunyai seorang putri jelita yg sangat aku sayangi dan kini sedang jatuh
cinta pada seorang muslim yang saleh. Aku mengkhawatirkan, pada suatu saat
nanti ia akan meninggalkanku dan agama yang kami peluk. Hingga di suatu pagi
buta, putriku terbangun oleh suara adzan dan bertanya padaku, 'Ayah, suara
jelek dan berisik apa itu?'
Aku pun menjawab , 'Itu
adalah suara adzan, yakni panggilan sholat bagi umat Islam.'
Putriku
langsung tercengang dan hampir tak percaya, bagaimana mungkin indahnya ajaran
Islam yg selalu di tampilkan oleh kekasihnya memiliki panggilan beribadah
sejelek itu?
Sejak saat
itulah putriku menjauhi kekasihnya itu dan juga Islam untuk selamanya."
(Parodi di atas
tertuang dalam al-Matsnawi, karya agung seorang sufi bernama Jalaluddin
al-Rumi.)