Hai, apa kabar?
Langsung saja menjawab pertanyaan dalam suratmu kemarin: aku menyukaimu, sungguh. Kamu adalah pria yang baik, manis, mau mendengar seluruh masalahku dan memberi respon dukungan yang tepat. Tapi aku tidak bisa melihat hubungan yang lebih tentang kita di masa depan. Rasanya bodoh sekali jika kita memaksa diri berpacaran, menghancurkan persahabatan yang selama ini kita miliki dengan indah dimana aku selalu mendapatkan seluruh perhatian yang aku butuhkan dan kamu tidak mendapatkan apa-apa. Kamu mengerti maksudku, kan?
Aku tahu kamu pasti mengerti. Kamu selalu mengerti.
Kita rasanya sudah sempurna sebagai sahabat. Aku selalu bisa bercerita tentang apa saja, dan kamu juga selalu bisa datang padaku kapan saja kamu mau mendengarkanku mengeluh panjang lebar tentang pekerjaan atau tentang betapa jeleknya diriku saat itu. Kamu pasti tidak mau merusak persahabatan seperti itu demi sekedar bisa menjadi pacarku dan menikmati tatapanku yang memandangmu dengan penuh hasrat, kan? Pasti tidak, aku yakin itu. Selain itu, kalau kita berpacaran, segala kenikmatan satu pihak yang selama ini aku dapatkan akan jadi berantakan dan hilang begitu saja.
Dari hati yang paling dalam, kamu adalah sahabat terbaikku dan aku benar-benar tidak ingin kehilangan hal itu. Sebenarnya mungkin saja kita mencoba berpacaran beberapa lama, iseng-iseng sekaligus melipur lara yang kamu alami selama enam tahun penuh harap menungguku dalam persahabatan yang platonik ini, tapi mau kemana lagi setelah itu? Nantinya akan sulit bagiku untuk kembali lagi ke masa persahabatan sebelumnya dimana aku bisa memanfaatkan minatmu padaku sehingga aku mempunyai seseorang untuk dijadikan fans dan tempat curhat. Bagian persahabatan yang itu sangat berarti bagiku.
Aku pikir kita memang sudah ditakdirkan untuk menjadi sahabat terbaik, bertemu dan menghabiskan waktu hanya ketika aku sedang tidak memiliki pacar tapi tetap membutuhkan perhatian dari pria untuk memuaskan egoku yang rapuh dan menyusahkan ini.
Ada banyak hal buruk yang bisa terjadi jika kamu memasukkan cinta dalam persahabatan kita ini. Masih ingat tentang pacarku tempo hari? Aku menelponmu sekitar pukul tiga pagi, bercerita sambil menangis tersedu-sedu tentang dia yang lambat membalas SMS-ku? Lalu tentang pria yang aku temui di pesta ulangtahun yang kamu adakan untukku? Aku menikmati semua percintaan hampa dengannya selama empat bulan, kemudian aku ditinggalkan begitu saja. Oh Tuhan, aku tahu persis kamu tidak akan berbuat seperti itu, tapi tetap lebih baik kita tetap berteman saja.
Ditambah lagi, terbayangkah kita berhadapan telanjang satu sama lain? Oh tidak tidak, aku sudah mengenalmu sekian lama. Kamu sudah terasa seperti sosok kakak bagiku, rasanya terlalu aneh bila kita berpacaran. Kamu pasti akan membenciku karena aku akan serba tergantung padamu, penuh drama, dan beresiko benar-benar jatuh cinta padamu. Dan jika aku jadi pacarmu, aku tidak bisa bercerita lagi tentang pria-pria bajingan yang diam-diam aku ladeni dan berpura-pura tidak melihat bahwa kamu merasa sakit hati ketika mengetahuinya. Jangan sampai kita kehilangan hal-hal itu. Itulah yang membuat kita berdua... begitu spesial.
Oh ya, sebelum aku lupa, tadi mamaku kirim salam. Balik lagi, jangan khawatir dengan semua ini. Kamu adalah pria yang sangat menyenangkan dan luar biasa, semua wanita kecuali aku pasti akan merasa beruntung untuk berpacaran denganmu. Dan bila kamu sudah bertemu wanita yang seperti itu, aku akan selalu ada di sampingmu dengan gaya manja, sangat perhatian dan sering menggodamu di depannya, sampai akhirnya dia merasa cemburu dan tidak percaya ketika kamu bilang bahwa kita hanya sahabat biasa. Lalu kamu juga akan tergoda untuk berpikir bahwa akhirnya aku memiliki perasaan lebih padamu, dan setelah kamu meninggalkan wanita itu, kamu akan menerima penolakan lagi ketika kamu menyatakan perasaanmu untuk yang kesekian kalinya padaku.
Aku tidak pernah menginginkanmu. Aku hanya senang memainkan perasaanmu. Lebih baik kita tidak merusak itu semua. Percayalah, kita akan selalu bersama, menjadi sahabat sejati, selamanya.
(originally posted in Hitman System G-Spot by Lex dePraxis)
Jaelussyahadat Jalalain
Saturday, June 11, 2016
Monday, February 15, 2016
Diamonds Don't Shine, They Only Reflect
Repost from my facebook note, originally posted on 2013
***
Halo semuanya :D
Inspirasi buat nulis ini berawal dari mengingat-ingat pembicaraan sama salah satu sahabat di kampus. Dulu waktu SMA, dia punya dua orang temen yang sama-sama jadi idola sekolahnya, cuma di bidang yang berbeda. Tahun 2012 lalu, salah satu temennya itu jadi mahasiswa berprestasi di tingkat fakultas sama universitas. Tahun ini, temennya yang satu lagi gantian jadi mahasiswa berprestasi tingkat fakultas sama universitas. Tinggal dia sendiri yang ngerasa ga jadi apa-apa. Dia ga ngasitau gue apa yang dia rasa saat itu, cuma dari body language-nya gue liat dia agak sedih dan ngerasa agak kalah sama temen-temen SMAnya itu.
Sisi positifnya, dia ngerasa perlu membenahi diri dan juga ikut punya prestasi. Dia ngajak gue buat sama-sama saling bantu naikin kualitas diri, dari sisi penampilan, kepribadian, reputasi, dan hal-hal lainnya. Jelas gue terima, karena emang gue bisa sahabatan sama dia gara-gara selalu bisa satu visi misi setiap ada inspirasi baru.
Dulu gue pernah ngerasain hal yang sama, tepatnya waktu baru masuk FEUI tahun 2009. Orang-orang baru yang gue temuin saat itu semuanya ajaib. Mulai dari kapten timnas baseball Indonesia yang keterima di FEUI karena jalur prestasi olahraga; temen cowo yang keliatannya ga pernah serius belajar tapi kalo ngerjain tugas atau ujian akuntansi cepetnya minta ampun trus nilainya selalu di atas 9 (selalu A); sampe satu cewe cantik yang ke kampus bawa mobil, suka dandan, ngobrolnya fashion melulu, tapi kalo ngasih pertanyaan atau pendapat di kelas selalu bikin terkesima. Gue yang saat itu ngerasa sebagai anak berprestasi di SMA ngerasa kecil banget. Ngerasa minder. Ngerasa gue bukan siapa-siapa lagi. Saat itu gue adalah anak belasan tahun yang ngerasa struggling selama 3 tahun buat dihormatin sia-sia, harus mulai dari nol lagi.
Gue curhat sama salah satu sahabat gue yang lain, yang udah kenal dari SMP. Setelah gue ceritain apa yang gue rasain, dia ngasih gue pelajaran yang ga akan pernah gue lupain seumur hidup.
Gue sadar, dulu gue bikin kebahagiaan gue tergantung dari respon orang lain terhadap gue. Gue ngerasa segitu butuhnya validasi dari orang lain supaya merasa diri gue adalah sesuatu. Ketika ada orang lain yang sinarnya lebih terang daripada gue, jelas gue ngerasa kecil dan minder karena gue bersinar sendirian dan kalah silau.
Gue coba bikin diri gue bisa punya mental suportif. Yang gue lakukan sesederhana ngerubah pemikiran, kalo orang yang gue kenal sama gue sendiri itu ga bersinar sendiri-sendiri, tapi bareng-bareng. Ga ada yang menang, ga ada yang kalah. Justru kalo ada temen yang prestasinya jauh lebih tinggi daripada gue, itu gue anggep sebagai pasokan sinar terang yang bisa bikin cahaya social circle gue tambah menyilaukan orang yang belom kenal gue. Temen yang punya prestasi banyak bukan bikin gue ngerasa semakin kecil dan minder, tapi malah bikin gue ngerasa jadi bangga dan tambah besar. Saat itu juga, gue sadar kalo dapetin kebahagiaan bisa dilakukan dengan cara sesederhana ngerubah mindset.
Ketika gue pindah kuliah ke FISIPUI tahun 2011, ada salah satu temen SMA gue seorang cewe yang berhasil nurunin berat badannya jauh banget. Dia juga niat banget belajar memperbaiki penampilan. Dia sukses bikin dirinya sendiri dari yang tadinya invisible waktu SMA, sekarang dihormatin dan jadi orang penting di lingkungannya. Sekarang dia jadi cantik banget, ditaksir banyak cowo. Gue bangga banget bisa kenal sama dia.
Ada juga temen lama gue waktu SMP yang hobinya dulu gambar, sekarang jadi komikus terkenal dan jadi salah satu perintis komik asli Indonesia. Tahun ini dia lulus dari jurusan Desain Komunikasi Visual di Binus, dan berencana bikin suatu agensi dan sempet juga ngajak gue join bareng. Sayangnya gue belom lulus kuliah karena pindah jurusan. Gue yakin dari karya-karyanya yang bikin dia udah punya fans banyak, bisa bikin dia hidup mandiri tanpa bergantung sama orangtuanya lagi. Bangga? Jelas.
Terakhir ketika gue buka facebook dan liat-liat update dari temen-temen FISIPUI yang ngisi liburannya dengan berbagai macam kegiatan menarik, ada yang ke Bali; ada yang ke New Zealand; ada yang ke Singapur karena pertukaran pelajar; ada yang magang di Pertamina; ada yang jadi panitia ospek dengan posisi cukup tinggi; dengan kondisi gue batal magang dan di rumah aja, gue ga ngerasa minder lagi. Gue seneng bisa kenal mereka yang menikmati liburannya. Gue malah ngerasa kayak dapet ‘hadiah’ karena ngebatalin magang dan ga pergi ke mana-mana. Sekarang gue lagi seneng-senengnya nikmatin hadiah baru itu. :D
Bukan bermaksud pamer temen yang gue punya, tapi gue pengen share ke temen-temen aja gimana caranya ngatasin minder kalo lingkungan sekitar terlalu bersinar. Temen-temen bisa punya sinar sendiri yang sama terangnya kok. Ambil inspirasi dari berlian, yang walaupun ga bisa nyiptain sinarnya sendiri, tapi bisa tetep berharga mahal dan diinginkan semua orang. Apa yang berlian lakukan? Refleksiin cahaya yang jatoh ke dia. Diamonds don’t shine, they only reflect.
Trus kalo udah ga ngerasa kecil dan minder, masih perlu ga ningkatin kualitas diri? Jelas masih. Temen-temen ga bisa jadi berlian dan refleksiin cahaya, kalo ga ikutin proses biar jadi berlian itu sendiri. Berlian bisa tercipta karena ditekan segitu keras di perut bumi dalam waktu yang lama. Mereka terus-menerus menempa diri, ga cuma diem ngeliat temen-temennya ngeraih prestasi.
Kalo ada kesan negatif yang temen-temen rasain muncul dari note ini, gue mohon maaf. Diambil yang positifnya aja, dijadiin sarana pembelajaran aja. Gue yakin temen-temen itu orang-orang berkualitas yang bisa ngeliat kebaikan dan bisa belajar dari sesuatu, sejelek apapun itu.
Monggo komentarnya. :D
***
Halo semuanya :D
Inspirasi buat nulis ini berawal dari mengingat-ingat pembicaraan sama salah satu sahabat di kampus. Dulu waktu SMA, dia punya dua orang temen yang sama-sama jadi idola sekolahnya, cuma di bidang yang berbeda. Tahun 2012 lalu, salah satu temennya itu jadi mahasiswa berprestasi di tingkat fakultas sama universitas. Tahun ini, temennya yang satu lagi gantian jadi mahasiswa berprestasi tingkat fakultas sama universitas. Tinggal dia sendiri yang ngerasa ga jadi apa-apa. Dia ga ngasitau gue apa yang dia rasa saat itu, cuma dari body language-nya gue liat dia agak sedih dan ngerasa agak kalah sama temen-temen SMAnya itu.
Sisi positifnya, dia ngerasa perlu membenahi diri dan juga ikut punya prestasi. Dia ngajak gue buat sama-sama saling bantu naikin kualitas diri, dari sisi penampilan, kepribadian, reputasi, dan hal-hal lainnya. Jelas gue terima, karena emang gue bisa sahabatan sama dia gara-gara selalu bisa satu visi misi setiap ada inspirasi baru.
Dulu gue pernah ngerasain hal yang sama, tepatnya waktu baru masuk FEUI tahun 2009. Orang-orang baru yang gue temuin saat itu semuanya ajaib. Mulai dari kapten timnas baseball Indonesia yang keterima di FEUI karena jalur prestasi olahraga; temen cowo yang keliatannya ga pernah serius belajar tapi kalo ngerjain tugas atau ujian akuntansi cepetnya minta ampun trus nilainya selalu di atas 9 (selalu A); sampe satu cewe cantik yang ke kampus bawa mobil, suka dandan, ngobrolnya fashion melulu, tapi kalo ngasih pertanyaan atau pendapat di kelas selalu bikin terkesima. Gue yang saat itu ngerasa sebagai anak berprestasi di SMA ngerasa kecil banget. Ngerasa minder. Ngerasa gue bukan siapa-siapa lagi. Saat itu gue adalah anak belasan tahun yang ngerasa struggling selama 3 tahun buat dihormatin sia-sia, harus mulai dari nol lagi.
Gue curhat sama salah satu sahabat gue yang lain, yang udah kenal dari SMP. Setelah gue ceritain apa yang gue rasain, dia ngasih gue pelajaran yang ga akan pernah gue lupain seumur hidup.
“Dat, elo ngerasa kecil sama minder gitu karena mental lo masih kompetitif, bukan suportif.”
Gue sadar, dulu gue bikin kebahagiaan gue tergantung dari respon orang lain terhadap gue. Gue ngerasa segitu butuhnya validasi dari orang lain supaya merasa diri gue adalah sesuatu. Ketika ada orang lain yang sinarnya lebih terang daripada gue, jelas gue ngerasa kecil dan minder karena gue bersinar sendirian dan kalah silau.
Gue coba bikin diri gue bisa punya mental suportif. Yang gue lakukan sesederhana ngerubah pemikiran, kalo orang yang gue kenal sama gue sendiri itu ga bersinar sendiri-sendiri, tapi bareng-bareng. Ga ada yang menang, ga ada yang kalah. Justru kalo ada temen yang prestasinya jauh lebih tinggi daripada gue, itu gue anggep sebagai pasokan sinar terang yang bisa bikin cahaya social circle gue tambah menyilaukan orang yang belom kenal gue. Temen yang punya prestasi banyak bukan bikin gue ngerasa semakin kecil dan minder, tapi malah bikin gue ngerasa jadi bangga dan tambah besar. Saat itu juga, gue sadar kalo dapetin kebahagiaan bisa dilakukan dengan cara sesederhana ngerubah mindset.
Ketika gue pindah kuliah ke FISIPUI tahun 2011, ada salah satu temen SMA gue seorang cewe yang berhasil nurunin berat badannya jauh banget. Dia juga niat banget belajar memperbaiki penampilan. Dia sukses bikin dirinya sendiri dari yang tadinya invisible waktu SMA, sekarang dihormatin dan jadi orang penting di lingkungannya. Sekarang dia jadi cantik banget, ditaksir banyak cowo. Gue bangga banget bisa kenal sama dia.
Ada juga temen lama gue waktu SMP yang hobinya dulu gambar, sekarang jadi komikus terkenal dan jadi salah satu perintis komik asli Indonesia. Tahun ini dia lulus dari jurusan Desain Komunikasi Visual di Binus, dan berencana bikin suatu agensi dan sempet juga ngajak gue join bareng. Sayangnya gue belom lulus kuliah karena pindah jurusan. Gue yakin dari karya-karyanya yang bikin dia udah punya fans banyak, bisa bikin dia hidup mandiri tanpa bergantung sama orangtuanya lagi. Bangga? Jelas.
Terakhir ketika gue buka facebook dan liat-liat update dari temen-temen FISIPUI yang ngisi liburannya dengan berbagai macam kegiatan menarik, ada yang ke Bali; ada yang ke New Zealand; ada yang ke Singapur karena pertukaran pelajar; ada yang magang di Pertamina; ada yang jadi panitia ospek dengan posisi cukup tinggi; dengan kondisi gue batal magang dan di rumah aja, gue ga ngerasa minder lagi. Gue seneng bisa kenal mereka yang menikmati liburannya. Gue malah ngerasa kayak dapet ‘hadiah’ karena ngebatalin magang dan ga pergi ke mana-mana. Sekarang gue lagi seneng-senengnya nikmatin hadiah baru itu. :D
Bukan bermaksud pamer temen yang gue punya, tapi gue pengen share ke temen-temen aja gimana caranya ngatasin minder kalo lingkungan sekitar terlalu bersinar. Temen-temen bisa punya sinar sendiri yang sama terangnya kok. Ambil inspirasi dari berlian, yang walaupun ga bisa nyiptain sinarnya sendiri, tapi bisa tetep berharga mahal dan diinginkan semua orang. Apa yang berlian lakukan? Refleksiin cahaya yang jatoh ke dia. Diamonds don’t shine, they only reflect.
Trus kalo udah ga ngerasa kecil dan minder, masih perlu ga ningkatin kualitas diri? Jelas masih. Temen-temen ga bisa jadi berlian dan refleksiin cahaya, kalo ga ikutin proses biar jadi berlian itu sendiri. Berlian bisa tercipta karena ditekan segitu keras di perut bumi dalam waktu yang lama. Mereka terus-menerus menempa diri, ga cuma diem ngeliat temen-temennya ngeraih prestasi.
Kalo ada kesan negatif yang temen-temen rasain muncul dari note ini, gue mohon maaf. Diambil yang positifnya aja, dijadiin sarana pembelajaran aja. Gue yakin temen-temen itu orang-orang berkualitas yang bisa ngeliat kebaikan dan bisa belajar dari sesuatu, sejelek apapun itu.
Monggo komentarnya. :D
Tuesday, July 21, 2015
Sebuah Hadiah Ulang Tahun
Udah lama banget sejak
terakhir kali gue blogging. Sebenernya banyak banget pikiran yang seliweran di
kepala, cuma belom cukup banyak motivasi yang ada aja di sekitar gue yang bisa
buat gue terdorong untuk bener-bener nuanginnya dalam bentuk tulisan kayak gini.
Sekarang gue rasa udah cukup banyak alesan untuk nulis lagi, dan tulisan ini
seengganya memenuhi empat tujuan yang gue punya.
Malem ini gue ngobrol sama
salah satu temen baik gue sambil dibayarin ngopi di salah satu mall di Jakarta.
Dia ini salah satu dari sedikit orang yang bisa bikin gue betah berlama-lama
dan lupa waktu karena dia bisa diajak ngobrol di level kedalaman yang beda dari
orang kebanyakan. Kami ngobrol seputar manusia, sifat manusiawi, dan dinamika
sosial, dan malem itu semua yang diobrolin sama sekali engga dangkal.
Gue cerita sama dia kalo gue
lagi asik main Clash of Clans. Dia ngasih tau gue, kalo dia juga lagi asik main
game dari developer yang sama (Supercell), yaitu Hay Day. Hay Day itu game
ngembangin ladang dan peternakan (semacem Farmville). Dia cerita betapa asiknya
main game itu, karena di situ dia belajar ngembangin sesuatu dengan melalui proses
yang lumayan panjang. Buat bikin pie
misalnya, dia pertama-tama harus nanem gandum dan ngerawat anak sapi. Gandumnya
ditungguin sampe siap panen, anak sapinya ditunggu sampe dewasa. Setelah cukup
lama, gandumnya lalu dipanen dan sapinya diperah susunya. Gandum yang udah
dipanen kemudian dijadiin tepung, susu sapi yang udah diperah kemudian dijadiin
keju. Baru deh dari tepung dan keju itu dia bisa bikin pie.
Dari game itu, dia belajar
memoles satu atau beberapa raw material
jadi sesuatu yang lebih baik. Obrolan itu bikin kami masuk ke topik romansa
cowo dan cewe, tentang tipikal orang-orang pinter yang punya kecenderungan
pengen memoles orang lain. Orang-orang ini pengen “menciptakan” orang sukses
dengan ngerawat mereka sejak mereka masih berbentuk raw material.
Kami berdua sepakat bahwa
ketika seseorang udah memiliki tingkat kecerdasan dan kedewasaan tertentu, dia
akan ngerasa kepengen berbagi ilmunya ke orang lain. Yang paling memungkinkan
untuk dibagi ilmu buat seumuran kami ya mungkin ke pacar (atau status hubungan
lainnya, intinya pasangannya). Jadi orang-orang ini cenderung nyari pasangan
dengan kriteria yang kira-kira kayak gini: pinter; tapi polos, lugu, naif, dan
mau diajarin. Kalo bisa, calon pasangan mereka itu orang-orang yang masih “murni
jiwanya”, yang belom pernah ngerasain kejamnya dunia. Masih jadi anak
baik-baik. Kriteria-kriteria itu menggambarkan raw material yang siap diolah, diarahkan, dan dikendalikan menuju kesuksesan.
Gue jadi inget kenapa gue
ketagihan main game Football Manager. Rasanya bisa nemuin taktik yang bagus
buat ngalahin musuh itu emang membahagiakan banget, tapi yang bener-bener bikin
kepincut adalah kemungkinan yang disediakan game itu untuk ngembangin seorang wonderkid menjadi seorang world class player. Gambaran gampangnya,
kemungkinan buat gue bisa jadi kayak Sir Alex Ferguson (mantan pelatih/manajer
Manchester United) yang “menciptakan” Cristiano Ronaldo dalam bentuk simulasi
game.
Level kesuksesan terbesar
dalam hal ini di bidang romansa mungkin salah satunya ada di pasangan Barack
dan Michelle Obama. Buat temen-temen yang banyak baca kisah mereka berdua
mungkin tau bahwa Barack Obama adalah sosok contoh raw material yang sukses dipoles, dan Michelle Obama adalah sosok
contoh yang sukses ngegambarin pepatah “ada seorang wanita yang sukses di balik
setiap pria yang sukses.”
Karena temen gue ini seorang
cewe, gue tertarik buat nanya dia satu pertanyaan yang masih mengganjal di
pikiran gue. Gue pengen tau sudut pandang seorang cewe dari pertanyaan: bisa ga
sih, cewe yang punya level kecerdasan dan kedewasaan segitu, tertarik sama cowo
yang sama kemampuannya? Bisa ga sih, cewe yang bisa “memoles” tertarik sama
cowo yang juga bisa “memoles”?
Dia jawab, rata-rata sih engga
bisa. Orang yang ngerasa cukup pinter dan dewasa, apalagi cowo yang makhluk
ego, akan cenderung ga suka diajarin karena ngerasa udah tau segalanya. Cewe,
yang insting sosialnya seribu kali lebih peka daripada cowo, akan bisa mencium
bau kayak gitu sejak pertama kali ketemu, dan ego tinggi itu akan otomatis
mematikan ketertarikan cewe-cewe yang bisa “memoles” ini. Katanya, pada umumya,
cewe yang bisa “memoles” akan tertarik sama cowo raw material, dan cowo yang bisa “memoles” juga akan tertariknya sama
cewe raw material.
Gue tanya lagi sama dia,
gimana kalo misalnya cowo yang bisa “memoles” itu mau banget belajar dan mau
banget diajarin? Gimana kalo cowo ini ngerasa mungkin aja masih ada beberapa
sisi dari dirinya yang masih raw dan
bisa dipoles dan dia mau banget dipoles? Bakalan ada ga cewe yang bisa “memoles”
yang mau tertarik sama dia?
Dia jawab, mungkin aja. Tapi
katanya, kayaknya bakalan susah cari cewe kayak gitu.
Setelah dia jawab begitu,
entah kenapa gue ngerasa sedih. Gue tiba-tiba kepikiran pasangan George dan
Amal Clooney, yang ibarat dua matahari yang bersatu. Gue merenung, harus kayak
gimana seorang cowo biar bisa kayak George Clooney dalam hal dapetin pasangan?
Gue yakin George Clooney cukup cerdas dan dewasa untuk bisa “memoles”, dan dia
bisa dapetin Amal yang punya hal yang sama dan bisa “memoles” juga.
Pertanyaan itu belom sempet
kejawab dan mall tempat kami ngobrol udah mau tutup. Kami diusir secara halus
dengan dikasih bill sebelum diminta, dan pada akhirnya obrolan kami harus
ditunda sampe kami bisa ketemu lagi. Temen gue ini bilang, cowo yang kayak gitu
level kecerdasan dan kedewasaannya udah melebihi cowo-cowo yang bisa “memoles”
itu. Katanya, cowo kayak gitu itu kayak sufi, yang makin berisi malah makin
ngerasa ga tau apa-apa.
Ya, mungkin emang beberapa
pertanyaan ga bisa langsung ditemuin jawabannya. Kalo semua pertanyaan langsung
bisa dijawab, ga akan ada para scholar
yang terus-terusan berusaha menembus batas ilmu yang dikuasai umat manusia kan?
Jadi ya mungkin aja pertanyaan yang ga bisa segera dijawab itu pertanda yang
baik.
Gimana menurut temen-temen?
Ada yang bersedia komentar berbagi pikiran di sini?
***
(Tulisan ini merupakan bentuk hadiah ulang tahun dan didedikasikan buat temen gue Adabina Cindina. Happy (early) birthday, girl! :D)
(Tulisan ini merupakan bentuk hadiah ulang tahun dan didedikasikan buat temen gue Adabina Cindina. Happy (early) birthday, girl! :D)
Tuesday, February 17, 2015
Anak harus berbakti sama orangtua? Masa sih?
DISCLAIMER: tulisan ini cuma bentuk dari ungkapan pemikiran. Gue ga berniat ngajak debat, nyari sensasi, atau memulai kontroversi. Beneran :D
***
Gue bikin
judul di atas bukan dengan tujuan ngajak debat. Bukan juga bikin kontroversi
supaya dapet perhatian padahal isinya sama sekali kebalikannya. Bukan. Judulnya
bener-bener ngegambarin apa yang pengen gue tulis. Menurut gue, seorang anak ga
harus berbakti sama orangtuanya. Gini penjelasannya.
Jaman
kecil dulu, gue dan mungkin temen-temen semua diajarin bahwa anak itu harus
berbakti sama orangtua. Katanya; orangtua itu udah berjasa banget, karena udah
ngebesarin, ngerawat, nyayangin kita, ngejaga kita. Katanya; turutin aja kata
mereka, toh tujuan mereka baik. Katanya; apa yang mereka inginkan adalah yang
terbaik untuk kita. Katanya; mereka ga akan menjerumuskan kita, karena mereka
sayang sama kita. Katanya; kalo kita ga nurut dan ga berbakti, kita itu anak
durhaka. Katanya; anak durhaka itu hukumannya berat banget, di neraka bahkan di
dunia, bisa-bisa nanti kayak Malin Kundang. “Katanya”.
Beberapa
tahun belakangan, ajaran itu udah mulai jarang gue denger. Gue malah banyak
denger pendapat yang ngajak orang-orang jadi orangtua yang baik, bukan lagi
jadi anak yang baik.
Sebelum dilanjutin, gue mau coba ajak temen-temen (terutama buat yang masih nganggep seorang
anak harus berbakti sama orangtuanya) mikir sebentar. KENAPA seorang anak harus
berbakti sama orangtuanya? KENAPA itu menjadi sebuah keharusan?
Untuk bisa
jawab dua pertanyaan di atas, temen-temen bisa refleksi diri dulu. Buat yang
belom punya anak, kalo temen-temen
pengen punya anak nanti, tujuannya apa? Buat yang udah punya anak, kemaren pas pengen punya anak, tujuannya
punya anak itu apa?
Karena
anak itu waktu bayi lucu?
Karena
semua orang itu kalo udah besar, menikah trus punya anak?
atau,
Supaya bisa disuruh-suruh pas anaknya udah besar? Makanya
disuruh berbakti?
Hehehehe.
Yuk coba
tempatin diri kita di perspektif anak-anak yang masih kecil. Apa mereka minta
dilahirin? Seandainya iya pun, apa mereka minta dilahirin sebagai anak kita?
Jawabannya,
engga. Mereka ga punya pilihan. Mereka adalah produk dan hasil dari pilihan
yang dibuat sama orangtuanya.
Pernyataan
“Anak harus berbakti sama orangtua” itu menurut gue menuntut seorang
anak untuk berbakti sama orangtuanya. Ibaratnya orangtuanya ngasih anaknya
HUTANG berupa perbuatan baik (ngerawat, ngebesarin, nyayangin, dan sebagainya)
dan NAGIH itu di kemudian hari dengan bentuk bakti, padahal sang anak ga pernah
minta dikasih hutang itu. Padahal sang anak ga minta dilahirkan (apalagi kalo
dilahirkan buat diutangin balas budi). Padahal yang sebenernya pengen punya
anak itu ya orangtuanya.
Gue bukan
ngajak anak-anak untuk ngelawan dan ga nurut sama orangtuanya. Gue cuma pengen
ngungkapin aja apa yang gue pikirin tentang penggunaan kata “harus berbakti”
yang masih dianggep bener sama sebagian orang-orang, dan mungkin sama
temen-temen sendiri. Menurut gue engga seharusnya begitu, karena gue pun kalo
memutuskan mau jadi orangtua nanti ga bakal punya pikiran anak gue harus
berbakti sama gue.
Seandainya
gue punya anak:
Gue tau apa
tujuan gue punya anak.
Gue yang
memutuskan mau punya anak.
Gue tau
tanggung jawab dan kewajiban gue sebagai orang tua ya memang ngerawat,
nyayangin, dan hal-hal lain sebagai bentuk dukungan gue buat anak gue dari
sejak dilahirkan sampe bisa hidup sendiri nanti (dan bahkan sampe gue atau anak
gue meninggal).
Gue
mempersiapkan dan memantaskan diri gue sebagai orangtua yang ideal sebelum
punya anak.
Gue ga
memaksakan pemikiran gue tentang “kewajiban seorang anak” ke anak gue, karena
gue tau dia berhak punya definisinya sendiri, dan seandainya berbeda pun, gue tau
gue adalah pihak yang seharusnya jadi lebih dewasa, dan kedewasaan itu memahami
dan memaklumi yang lebih kekanakan.
Dan
harapan gue adalah, dia nanti jadi orangtua yang baik untuk anaknya nanti.
Nerusin legacy dari gue.
Bukan
jadiin dia boneka gue.
Bukan
nuntut dia harus menjadi seperti mau gue.
Lagian
kalo emang kita udah jadi orangtua yang baik, memenuhin semua kewajiban kita
sebagai orangtua, selalu jadi pihak yang lebih dewasa yang ga berlindung di
balik posisi kita, anak kita juga bakal respek dan berbakti ke kita secara
otomatis, ya ga sih? Ga perlu dituntut “HARUS”.
Temen-temen
boleh setuju, boleh engga. Monggo komentarin deh.
Wednesday, October 22, 2014
Sebuah Parodi
via Qomari
Arisandi
***
Alkisah, ada seorang
muadzin bersuara jelek di negeri dengan penduduk mayoritas Kristen. Walaupun ia
bersuara jelek, ia tetap percaya diri mengumandangkan adzan dan tak
menghiraukan himbauan dari teman-temannya sesama muslim.
Hingga suatu ketika
datanglah seorang pendeta kepada muadzin tersebut dan memberikan berbagai
kemewahan dunia yang begitu melimpah sebagai tanda terimakasih yang mendalam
sang pendeta kepada muadzin tersebut.
Karena penasaran, maka orang-orang Islam yang lainnya bertanya
pada sang pendeta, "Wahai pendeta, kebaikan apakah kiranya yang anda
peroleh dari seorang muadzin bersuara jelek ini?"
Sang pendeta pun
menjawab,
"Sesungguhnya aku
mempunyai seorang putri jelita yg sangat aku sayangi dan kini sedang jatuh
cinta pada seorang muslim yang saleh. Aku mengkhawatirkan, pada suatu saat
nanti ia akan meninggalkanku dan agama yang kami peluk. Hingga di suatu pagi
buta, putriku terbangun oleh suara adzan dan bertanya padaku, 'Ayah, suara
jelek dan berisik apa itu?'
Aku pun menjawab , 'Itu
adalah suara adzan, yakni panggilan sholat bagi umat Islam.'
Putriku
langsung tercengang dan hampir tak percaya, bagaimana mungkin indahnya ajaran
Islam yg selalu di tampilkan oleh kekasihnya memiliki panggilan beribadah
sejelek itu?
Sejak saat
itulah putriku menjauhi kekasihnya itu dan juga Islam untuk selamanya."
(Parodi di atas
tertuang dalam al-Matsnawi, karya agung seorang sufi bernama Jalaluddin
al-Rumi.)
Tuesday, August 19, 2014
Benefits of Taking an Older Woman as a Lover
"First and most obvious - they're wiser. And so this makes for far more stimulating conversation. Makes other things more stimulating as well. But more on that in a moment.
Second, when beauty fades, women must improve their utility - lest they be discarded and forgotten. Rare is an old woman who is not also kind, compassionate, and good.
Now onto third! Older women cannot conceive! Which means one less thing over which to fret in fact, you also decrease the chance of acquiring something like the French Pox - its presence clearly visible - or the woman dead.
(And should one desire a child?)
Then make a young woman your wife. Let the older one be a mistress. And that brings me to my fourth point: With age comes prudence. An older woman is less likely to reveal your indiscretions.
As to the fifth reason: Because in every animal that walks upright, the deficiency of the fluids that fill the muscles appears first in the highest part: the face first grows lank and wrinkled, then the neck, then the breast and arms; the lower parts continuing to the last as plump as ever. So that covering all above with a basket, and regarding only what is below the girdle, it is impossible of two women to know an old from a young one. And as in the dark all cats are grey, the pleasure of corporal enjoyment with an old woman is at least equal and frequently superior, every knack being by practice capable of improvement.
(You mad bastard! - LOL)
Well it's true. And believe me, I should know - I've sampled a great many. You should try one as well! Like a fine wine, they only improve with age. Although... I suppose if left unattended too long, some have tendency to sour. And that, my friend, is a most unpleasant experience. Better to work in a field often plowed, you know?
The sixth is this: the sin is less. To take a maidenhead is a great responsibility. Mishandled, it can ruin lives. No such risk with an older woman.
And this implies the seventh: younger women are more given to compunction. Anxiety and unease are not present in the more aged and experienced.
And as to the last of my reasons. Well, it really quite simple. Older woman are so very grateful for the attention."
—Benjamin Franklin, giving advice to Haytham Kenway in Assassin's Creed III
Second, when beauty fades, women must improve their utility - lest they be discarded and forgotten. Rare is an old woman who is not also kind, compassionate, and good.
Now onto third! Older women cannot conceive! Which means one less thing over which to fret in fact, you also decrease the chance of acquiring something like the French Pox - its presence clearly visible - or the woman dead.
(And should one desire a child?)
Then make a young woman your wife. Let the older one be a mistress. And that brings me to my fourth point: With age comes prudence. An older woman is less likely to reveal your indiscretions.
As to the fifth reason: Because in every animal that walks upright, the deficiency of the fluids that fill the muscles appears first in the highest part: the face first grows lank and wrinkled, then the neck, then the breast and arms; the lower parts continuing to the last as plump as ever. So that covering all above with a basket, and regarding only what is below the girdle, it is impossible of two women to know an old from a young one. And as in the dark all cats are grey, the pleasure of corporal enjoyment with an old woman is at least equal and frequently superior, every knack being by practice capable of improvement.
(You mad bastard! - LOL)
Well it's true. And believe me, I should know - I've sampled a great many. You should try one as well! Like a fine wine, they only improve with age. Although... I suppose if left unattended too long, some have tendency to sour. And that, my friend, is a most unpleasant experience. Better to work in a field often plowed, you know?
The sixth is this: the sin is less. To take a maidenhead is a great responsibility. Mishandled, it can ruin lives. No such risk with an older woman.
And this implies the seventh: younger women are more given to compunction. Anxiety and unease are not present in the more aged and experienced.
And as to the last of my reasons. Well, it really quite simple. Older woman are so very grateful for the attention."
—Benjamin Franklin, giving advice to Haytham Kenway in Assassin's Creed III
Thursday, June 26, 2014
Game of Thrones review: Sudut pandang seorang Fanboy
Gue bukan mau
nulis review Game of Thrones season 4, tapi review seluruh ceritanya secara
keseluruhan. Ya ada beberapa komentar sih tentang season 4, tapi bukan
satu-satunya. Gue bakal ngebahas A Song of Ice and Fire, yang kalo di
serial novel sampe buku ketiga (A Storm of Swords), yang kalo di serial tv
sampe season 4.
Temen-temen yang mampir ke sini tapi belom nonton Game of
Thrones sampe season 4, mendingan stop di sini karena gue bakal ngebahas jalan
ceritanya sampe season 4. Buat yang udah, ikutan komentar ya biar bisa diskusi
bareng. Tenang aja, gue ga akan ngasih spoiler melebihi cerita yang ada
sekarang.
Langsung aja.
Kenapa namanya A
Song of Ice and Fire? Gue ga pernah dapet jawaban pastinya, tapi gue punya dugaan
sebenernya dongeng ini berpusat sama dua jalan cerita utama; Ice yang diwakili
keluarga Stark yang tinggal di Winterfell yang dingin, sama Fire yang diwakili keluarga Targaryen yang hubungannya sama naga. “Ice” itu sendiri nama dari pedangnya
Eddard Stark yang terbuat dari valyrian steel, yang akhirnya dipecah dua dan
salah satunya dipegang Brienne yang namanya “Oathkeeper”. Sementara Fire,
mungkin senjata utamanya Daenerys Targaryen, api yang disembur dari
naga-naganya.
Di awal serial tv
sama di novel, kita dikasih sekilas kengerian White Walkers/The Others. Setelah
itu mulai cerita tentang keluarga Stark, yang terkait sama kematian Jon Arryn
(kakak iparnya Catelyn, suaminya Lysa Tully, waktu itu Hand of the King Robert
Baratheon). Jon Arryn ini udah dianggep bapak sama Eddard sama Robert, jadi
kematiannya berat buat mereka berdua. Setelah itu Catelyn dikasih surat rahasia
yang ternyata dari Lysa, yang bilang kalo Jon Arryn dibunuh Cersei Lannister
pake racun. Muncul dugaan keluarga Lannister haus kekuasaan. Kebetulan Eddard
diminta Robert buat gantiin Jon Arryn jadi Hand of the King (btw, ada peribahasa di novel tentang Hand of the King: “the king eats, the Hand takes the shit”). Catelyn akhirnya
minta Eddard setujuin permintaan Robert, buat ngungkap kejahatan di balik
kematian kakak iparnya, sekalian ngelindungin Robert. Akhirnya Eddard pergi ke
King’s Landing, bawa beberapa anaknya. Karena Eddard pergi, Jon Snow juga harus
ikut pergi karena Catelyn ga suka sama Jon. Akhirnya Jon gabung lah sama Night’s
Watch.
“The king eats, the Hand takes the shit.”
Dan akhirnya dari
situ mulai macem-macem tragedi yang menimpa keluarga Stark, sampe sekarang ini.
Di season 4 episode 7 di serial tv, sebelum Lysa didorong sama Petyr Baelish,
dia bilang kalo sebenernya otak pembunuhan Jon Arryn itu Petyr. Gue baru sadar
belakangan ini, kalo ternyata si Petyr Baelish alias Littlefinger adalah biang
kerok semua drama yang terjadi di ASoIaF atau GoT. Mungkin tadinya dia cuma
pengen nyingkirin Eddard buat bisa dapetin Catelyn. Mungkin dia ga nyangka
bakal bikin Catelyn ikut sengsara. Mungkin dia juga ga nyangka efek konspirasinya
lebih besar dari sekedar ngancurin satu keluarga, tapi satu realm, Seven
Kingdoms.
Obsesi banget sama Catelyn sih kayaknya. Dia
perlu belajar di Hitman System kayak gue.
Anyway, buat gue
season 4 kemaren adalah season yang paling banyak bunuh tokoh, paling banyak
scene yang bikin merinding, paling bikin jatuh cinta sama Tyrion Lannister dan
konco-konconya. Paling bikin kagum sama Jon Snow juga. Oh iya, season ini juga
ngubah kebencian gue ke Jaime Lannister jadi rasa hormat dan respek.
Menurut gue, ada
dua tipe fans serial tv Game of Thrones. Tipe pertama, yang ngerasa klimaks di
setiap season itu ada di episode 9 (season 1 Eddard dipenggal, season 2 Battle
of Blackwater, season 3 The Red Wedding, season 4 Battle of Castle Black). Tipe
kedua, yang ngerasa klimaksnya ada di season finale, episode 10. Ada
beberapa temen gue tipe kedua; sementara gue sendiri tipe yang pertama, dan
kecewa banget sama episode 10 di season 4 kemaren. Mungkin bakal puas kalo ada
satu tokoh yang gue tunggu-tunggu, tapi ternyata ga muncul. Yowes lah, mau
diapain lagi.
Soal siapa ibunya
Jon Snow, ada teori yang beredar di internet (R+L=J) yang udah jadi rahasia
umum. Gue sendiri belom pasti yakin teori itu bener, siapa tau ini celah buat
dijadiin twist cerita lagi sama George R. R. Martin. Gue ga sabar pengen tau
siapa sebenernya ibunya, pengen tau juga jalan cerita masa lalunya.
Gitu aja mungkin
review pertama gue. Sebagai penutup, gue mau ngasih saran buat temen-temen yang
cuma nonton serial tv. Baca novelnya! Di novel pertanyaan-pertanyaan lo bakal
kejawab, karena digambarin jelas sifat setiap karakter. Lo bakal ngerasain apa
yang mereka rasain. Adegan yang ada di novel, jauh lebih keren dibanding yang
ada di serial tv. Serius, baca deh. Cari di toko buku impor macem Periplus,
Kinokuniya, atau Books and Beyond. Mumpung lagi liburan kan. Worth it kok harganya sama apa yang lo dapet dari novelnya.
Monggo
komentarnya, yuk diskusi bareng!
Subscribe to:
Posts (Atom)
