Saturday, June 11, 2016

Arti Sebenarnya Ketika Wanita Berkata "Lebih Baik Kita Berteman Saja"

Hai, apa kabar?

Langsung saja menjawab pertanyaan dalam suratmu kemarin: aku menyukaimu, sungguh. Kamu adalah pria yang baik, manis, mau mendengar seluruh masalahku dan memberi respon dukungan yang tepat. Tapi aku tidak bisa melihat hubungan yang lebih tentang kita di masa depan. Rasanya bodoh sekali jika kita memaksa diri berpacaran, menghancurkan persahabatan yang selama ini kita miliki dengan indah dimana aku selalu mendapatkan seluruh perhatian yang aku butuhkan dan kamu tidak mendapatkan apa-apa. Kamu mengerti maksudku, kan?

Aku tahu kamu pasti mengerti. Kamu selalu mengerti.

Kita rasanya sudah sempurna sebagai sahabat. Aku selalu bisa bercerita tentang apa saja, dan kamu juga selalu bisa datang padaku kapan saja kamu mau mendengarkanku mengeluh panjang lebar tentang pekerjaan atau tentang betapa jeleknya diriku saat itu. Kamu pasti tidak mau merusak persahabatan seperti itu demi sekedar bisa menjadi pacarku dan menikmati tatapanku yang memandangmu dengan penuh hasrat, kan? Pasti tidak, aku yakin itu. Selain itu, kalau kita berpacaran, segala kenikmatan satu pihak yang selama ini aku dapatkan akan jadi berantakan dan hilang begitu saja.

Dari hati yang paling dalam, kamu adalah sahabat terbaikku dan aku benar-benar tidak ingin kehilangan hal itu. Sebenarnya mungkin saja kita mencoba berpacaran beberapa lama, iseng-iseng sekaligus melipur lara yang kamu alami selama enam tahun penuh harap menungguku dalam persahabatan yang platonik ini, tapi mau kemana lagi setelah itu? Nantinya akan sulit bagiku untuk kembali lagi ke masa persahabatan sebelumnya dimana aku bisa memanfaatkan minatmu padaku sehingga aku mempunyai seseorang untuk dijadikan fans dan tempat curhat. Bagian persahabatan yang itu sangat berarti bagiku.

Aku pikir kita memang sudah ditakdirkan untuk menjadi sahabat terbaik, bertemu dan menghabiskan waktu hanya ketika aku sedang tidak memiliki pacar tapi tetap membutuhkan perhatian dari pria untuk memuaskan egoku yang rapuh dan menyusahkan ini.

Ada banyak hal buruk yang bisa terjadi jika kamu memasukkan cinta dalam persahabatan kita ini. Masih ingat tentang pacarku tempo hari? Aku menelponmu sekitar pukul tiga pagi, bercerita sambil menangis tersedu-sedu tentang dia yang lambat membalas SMS-ku? Lalu tentang pria yang aku temui di pesta ulangtahun yang kamu adakan untukku? Aku menikmati semua percintaan hampa dengannya selama empat bulan, kemudian aku ditinggalkan begitu saja. Oh Tuhan, aku tahu persis kamu tidak akan berbuat seperti itu, tapi tetap lebih baik kita tetap berteman saja.

Ditambah lagi, terbayangkah kita berhadapan telanjang satu sama lain? Oh tidak tidak, aku sudah mengenalmu sekian lama. Kamu sudah terasa seperti sosok kakak bagiku, rasanya terlalu aneh bila kita berpacaran. Kamu pasti akan membenciku karena aku akan serba tergantung padamu, penuh drama, dan beresiko benar-benar jatuh cinta padamu. Dan jika aku jadi pacarmu, aku tidak bisa bercerita lagi tentang pria-pria bajingan yang diam-diam aku ladeni dan berpura-pura tidak melihat bahwa kamu merasa sakit hati ketika mengetahuinya. Jangan sampai kita kehilangan hal-hal itu. Itulah yang membuat kita berdua... begitu spesial.

Oh ya, sebelum aku lupa, tadi mamaku kirim salam. Balik lagi, jangan khawatir dengan semua ini. Kamu adalah pria yang sangat menyenangkan dan luar biasa, semua wanita kecuali aku pasti akan merasa beruntung untuk berpacaran denganmu. Dan bila kamu sudah bertemu wanita yang seperti itu, aku akan selalu ada di sampingmu dengan gaya manja, sangat perhatian dan sering menggodamu di depannya, sampai akhirnya dia merasa cemburu dan tidak percaya ketika kamu bilang bahwa kita hanya sahabat biasa. Lalu kamu juga akan tergoda untuk berpikir bahwa akhirnya aku memiliki perasaan lebih padamu, dan setelah kamu meninggalkan wanita itu, kamu akan menerima penolakan lagi ketika kamu menyatakan perasaanmu untuk yang kesekian kalinya padaku.

Aku tidak pernah menginginkanmu. Aku hanya senang memainkan perasaanmu. Lebih baik kita tidak merusak itu semua. Percayalah, kita akan selalu bersama, menjadi sahabat sejati, selamanya.


(originally posted in Hitman System G-Spot by Lex dePraxis)

Monday, February 15, 2016

Diamonds Don't Shine, They Only Reflect

Repost from my facebook note, originally posted on 2013

***

Halo semuanya :D

Inspirasi buat nulis ini berawal dari mengingat-ingat pembicaraan sama salah satu sahabat di kampus. Dulu waktu SMA, dia punya dua orang temen yang sama-sama jadi idola sekolahnya, cuma di bidang yang berbeda. Tahun 2012 lalu, salah satu temennya itu jadi mahasiswa berprestasi di tingkat fakultas sama universitas. Tahun ini, temennya yang satu lagi gantian jadi mahasiswa berprestasi tingkat fakultas sama universitas. Tinggal dia sendiri yang ngerasa ga jadi apa-apa. Dia ga ngasitau gue apa yang dia rasa saat itu, cuma dari body language-nya gue liat dia agak sedih dan ngerasa agak kalah sama temen-temen SMAnya itu.

Sisi positifnya, dia ngerasa perlu membenahi diri dan juga ikut punya prestasi. Dia ngajak gue buat sama-sama saling bantu naikin kualitas diri, dari sisi penampilan, kepribadian, reputasi, dan hal-hal lainnya. Jelas gue terima, karena emang gue bisa sahabatan sama dia gara-gara selalu bisa satu visi misi setiap ada inspirasi baru.

Dulu gue pernah ngerasain hal yang sama, tepatnya waktu baru masuk FEUI tahun 2009. Orang-orang baru yang gue temuin saat itu semuanya ajaib. Mulai dari kapten timnas baseball Indonesia yang keterima di FEUI karena jalur prestasi olahraga; temen cowo yang keliatannya ga pernah serius belajar tapi kalo ngerjain tugas atau ujian akuntansi cepetnya minta ampun trus nilainya selalu di atas 9 (selalu A); sampe satu cewe cantik yang ke kampus bawa mobil, suka dandan, ngobrolnya fashion melulu, tapi kalo ngasih pertanyaan atau pendapat di kelas selalu bikin terkesima. Gue yang saat itu ngerasa sebagai anak berprestasi di SMA ngerasa kecil banget. Ngerasa minder. Ngerasa gue bukan siapa-siapa lagi. Saat itu gue adalah anak belasan tahun yang ngerasa struggling selama 3 tahun buat dihormatin sia-sia, harus mulai dari nol lagi.

Gue curhat sama salah satu sahabat gue yang lain, yang udah kenal dari SMP. Setelah gue ceritain apa yang gue rasain, dia ngasih gue pelajaran yang ga akan pernah gue lupain seumur hidup.

“Dat, elo ngerasa kecil sama minder gitu karena mental lo masih kompetitif, bukan suportif.”

Gue sadar, dulu gue bikin kebahagiaan gue tergantung dari respon orang lain terhadap gue. Gue ngerasa segitu butuhnya validasi dari orang lain supaya merasa diri gue adalah sesuatu. Ketika ada orang lain yang sinarnya lebih terang daripada gue, jelas gue ngerasa kecil dan minder karena gue bersinar sendirian dan kalah silau.

Gue coba bikin diri gue bisa punya mental suportif. Yang gue lakukan sesederhana ngerubah pemikiran, kalo orang yang gue kenal sama gue sendiri itu ga bersinar sendiri-sendiri, tapi bareng-bareng. Ga ada yang menang, ga ada yang kalah. Justru kalo ada temen yang prestasinya jauh lebih tinggi daripada gue, itu gue anggep sebagai pasokan sinar terang yang bisa bikin cahaya social circle gue tambah menyilaukan orang yang belom kenal gue. Temen yang punya prestasi banyak bukan bikin gue ngerasa semakin kecil dan minder, tapi malah bikin gue ngerasa jadi bangga dan tambah besar. Saat itu juga, gue sadar kalo dapetin kebahagiaan bisa dilakukan dengan cara sesederhana ngerubah mindset.

Ketika gue pindah kuliah ke FISIPUI tahun 2011, ada salah satu temen SMA gue seorang cewe yang berhasil nurunin berat badannya jauh banget. Dia juga niat banget belajar memperbaiki penampilan. Dia sukses bikin dirinya sendiri dari yang tadinya invisible waktu SMA, sekarang dihormatin dan jadi orang penting di lingkungannya. Sekarang dia jadi cantik banget, ditaksir banyak cowo. Gue bangga banget bisa kenal sama dia.

Ada juga temen lama gue waktu SMP yang hobinya dulu gambar, sekarang jadi komikus terkenal dan jadi salah satu perintis komik asli Indonesia. Tahun ini dia lulus dari jurusan Desain Komunikasi Visual di Binus, dan berencana bikin suatu agensi dan sempet juga ngajak gue join bareng. Sayangnya gue belom lulus kuliah karena pindah jurusan. Gue yakin dari karya-karyanya yang bikin dia udah punya fans banyak, bisa bikin dia hidup mandiri tanpa bergantung sama orangtuanya lagi. Bangga? Jelas.

Terakhir ketika gue buka facebook dan liat-liat update dari temen-temen FISIPUI yang ngisi liburannya dengan berbagai macam kegiatan menarik, ada yang ke Bali; ada yang ke New Zealand; ada yang ke Singapur karena pertukaran pelajar; ada yang magang di Pertamina; ada yang jadi panitia ospek dengan posisi cukup tinggi; dengan kondisi gue batal magang dan di rumah aja, gue ga ngerasa minder lagi. Gue seneng bisa kenal mereka yang menikmati liburannya. Gue malah ngerasa kayak dapet ‘hadiah’ karena ngebatalin magang dan ga pergi ke mana-mana. Sekarang gue lagi seneng-senengnya nikmatin hadiah baru itu. :D

Bukan bermaksud pamer temen yang gue punya, tapi gue pengen share ke temen-temen aja gimana caranya ngatasin minder kalo lingkungan sekitar terlalu bersinar. Temen-temen bisa punya sinar sendiri yang sama terangnya kok. Ambil inspirasi dari berlian, yang walaupun ga bisa nyiptain sinarnya sendiri, tapi bisa tetep berharga mahal dan diinginkan semua orang. Apa yang berlian lakukan? Refleksiin cahaya yang jatoh ke dia. Diamonds don’t shine, they only reflect.

Trus kalo udah ga ngerasa kecil dan minder, masih perlu ga ningkatin kualitas diri? Jelas masih. Temen-temen ga bisa jadi berlian dan refleksiin cahaya, kalo ga ikutin proses biar jadi berlian itu sendiri. Berlian bisa tercipta karena ditekan segitu keras di perut bumi dalam waktu yang lama. Mereka terus-menerus menempa diri, ga cuma diem ngeliat temen-temennya ngeraih prestasi.

Kalo ada kesan negatif yang temen-temen rasain muncul dari note ini, gue mohon maaf. Diambil yang positifnya aja, dijadiin sarana pembelajaran aja. Gue yakin temen-temen itu orang-orang berkualitas yang bisa ngeliat kebaikan dan bisa belajar dari sesuatu, sejelek apapun itu.

Monggo komentarnya. :D

Tuesday, July 21, 2015

Sebuah Hadiah Ulang Tahun

Udah lama banget sejak terakhir kali gue blogging. Sebenernya banyak banget pikiran yang seliweran di kepala, cuma belom cukup banyak motivasi yang ada aja di sekitar gue yang bisa buat gue terdorong untuk bener-bener nuanginnya dalam bentuk tulisan kayak gini. Sekarang gue rasa udah cukup banyak alesan untuk nulis lagi, dan tulisan ini seengganya memenuhi empat tujuan yang gue punya.

Malem ini gue ngobrol sama salah satu temen baik gue sambil dibayarin ngopi di salah satu mall di Jakarta. Dia ini salah satu dari sedikit orang yang bisa bikin gue betah berlama-lama dan lupa waktu karena dia bisa diajak ngobrol di level kedalaman yang beda dari orang kebanyakan. Kami ngobrol seputar manusia, sifat manusiawi, dan dinamika sosial, dan malem itu semua yang diobrolin sama sekali engga dangkal.

Gue cerita sama dia kalo gue lagi asik main Clash of Clans. Dia ngasih tau gue, kalo dia juga lagi asik main game dari developer yang sama (Supercell), yaitu Hay Day. Hay Day itu game ngembangin ladang dan peternakan (semacem Farmville). Dia cerita betapa asiknya main game itu, karena di situ dia belajar ngembangin sesuatu dengan melalui proses yang lumayan panjang. Buat bikin pie misalnya, dia pertama-tama harus nanem gandum dan ngerawat anak sapi. Gandumnya ditungguin sampe siap panen, anak sapinya ditunggu sampe dewasa. Setelah cukup lama, gandumnya lalu dipanen dan sapinya diperah susunya. Gandum yang udah dipanen kemudian dijadiin tepung, susu sapi yang udah diperah kemudian dijadiin keju. Baru deh dari tepung dan keju itu dia bisa bikin pie.

Dari game itu, dia belajar memoles satu atau beberapa raw material jadi sesuatu yang lebih baik. Obrolan itu bikin kami masuk ke topik romansa cowo dan cewe, tentang tipikal orang-orang pinter yang punya kecenderungan pengen memoles orang lain. Orang-orang ini pengen “menciptakan” orang sukses dengan ngerawat mereka sejak mereka masih berbentuk raw material.

Kami berdua sepakat bahwa ketika seseorang udah memiliki tingkat kecerdasan dan kedewasaan tertentu, dia akan ngerasa kepengen berbagi ilmunya ke orang lain. Yang paling memungkinkan untuk dibagi ilmu buat seumuran kami ya mungkin ke pacar (atau status hubungan lainnya, intinya pasangannya). Jadi orang-orang ini cenderung nyari pasangan dengan kriteria yang kira-kira kayak gini: pinter; tapi polos, lugu, naif, dan mau diajarin. Kalo bisa, calon pasangan mereka itu orang-orang yang masih “murni jiwanya”, yang belom pernah ngerasain kejamnya dunia. Masih jadi anak baik-baik. Kriteria-kriteria itu menggambarkan raw material yang siap diolah, diarahkan, dan dikendalikan menuju kesuksesan.

Gue jadi inget kenapa gue ketagihan main game Football Manager. Rasanya bisa nemuin taktik yang bagus buat ngalahin musuh itu emang membahagiakan banget, tapi yang bener-bener bikin kepincut adalah kemungkinan yang disediakan game itu untuk ngembangin seorang wonderkid menjadi seorang world class player. Gambaran gampangnya, kemungkinan buat gue bisa jadi kayak Sir Alex Ferguson (mantan pelatih/manajer Manchester United) yang “menciptakan” Cristiano Ronaldo dalam bentuk simulasi game.

Level kesuksesan terbesar dalam hal ini di bidang romansa mungkin salah satunya ada di pasangan Barack dan Michelle Obama. Buat temen-temen yang banyak baca kisah mereka berdua mungkin tau bahwa Barack Obama adalah sosok contoh raw material yang sukses dipoles, dan Michelle Obama adalah sosok contoh yang sukses ngegambarin pepatah “ada seorang wanita yang sukses di balik setiap pria yang sukses.”


Karena temen gue ini seorang cewe, gue tertarik buat nanya dia satu pertanyaan yang masih mengganjal di pikiran gue. Gue pengen tau sudut pandang seorang cewe dari pertanyaan: bisa ga sih, cewe yang punya level kecerdasan dan kedewasaan segitu, tertarik sama cowo yang sama kemampuannya? Bisa ga sih, cewe yang bisa “memoles” tertarik sama cowo yang juga bisa “memoles”?

Dia jawab, rata-rata sih engga bisa. Orang yang ngerasa cukup pinter dan dewasa, apalagi cowo yang makhluk ego, akan cenderung ga suka diajarin karena ngerasa udah tau segalanya. Cewe, yang insting sosialnya seribu kali lebih peka daripada cowo, akan bisa mencium bau kayak gitu sejak pertama kali ketemu, dan ego tinggi itu akan otomatis mematikan ketertarikan cewe-cewe yang bisa “memoles” ini. Katanya, pada umumya, cewe yang bisa “memoles” akan tertarik sama cowo raw material, dan cowo yang bisa “memoles” juga akan tertariknya sama cewe raw material.

Gue tanya lagi sama dia, gimana kalo misalnya cowo yang bisa “memoles” itu mau banget belajar dan mau banget diajarin? Gimana kalo cowo ini ngerasa mungkin aja masih ada beberapa sisi dari dirinya yang masih raw dan bisa dipoles dan dia mau banget dipoles? Bakalan ada ga cewe yang bisa “memoles” yang mau tertarik sama dia?

Dia jawab, mungkin aja. Tapi katanya, kayaknya bakalan susah cari cewe kayak gitu.

Setelah dia jawab begitu, entah kenapa gue ngerasa sedih. Gue tiba-tiba kepikiran pasangan George dan Amal Clooney, yang ibarat dua matahari yang bersatu. Gue merenung, harus kayak gimana seorang cowo biar bisa kayak George Clooney dalam hal dapetin pasangan? Gue yakin George Clooney cukup cerdas dan dewasa untuk bisa “memoles”, dan dia bisa dapetin Amal yang punya hal yang sama dan bisa “memoles” juga.

Pertanyaan itu belom sempet kejawab dan mall tempat kami ngobrol udah mau tutup. Kami diusir secara halus dengan dikasih bill sebelum diminta, dan pada akhirnya obrolan kami harus ditunda sampe kami bisa ketemu lagi. Temen gue ini bilang, cowo yang kayak gitu level kecerdasan dan kedewasaannya udah melebihi cowo-cowo yang bisa “memoles” itu. Katanya, cowo kayak gitu itu kayak sufi, yang makin berisi malah makin ngerasa ga tau apa-apa.

Ya, mungkin emang beberapa pertanyaan ga bisa langsung ditemuin jawabannya. Kalo semua pertanyaan langsung bisa dijawab, ga akan ada para scholar yang terus-terusan berusaha menembus batas ilmu yang dikuasai umat manusia kan? Jadi ya mungkin aja pertanyaan yang ga bisa segera dijawab itu pertanda yang baik.

Gimana menurut temen-temen? Ada yang bersedia komentar berbagi pikiran di sini?

***

(Tulisan ini merupakan bentuk hadiah ulang tahun dan didedikasikan buat temen gue Adabina Cindina. Happy (early) birthday, girl! :D)

Tuesday, February 17, 2015

Anak harus berbakti sama orangtua? Masa sih?

DISCLAIMER: tulisan ini cuma bentuk dari ungkapan pemikiran. Gue ga berniat ngajak debat, nyari sensasi, atau memulai kontroversi. Beneran :D

***

Gue bikin judul di atas bukan dengan tujuan ngajak debat. Bukan juga bikin kontroversi supaya dapet perhatian padahal isinya sama sekali kebalikannya. Bukan. Judulnya bener-bener ngegambarin apa yang pengen gue tulis. Menurut gue, seorang anak ga harus berbakti sama orangtuanya. Gini penjelasannya.

Jaman kecil dulu, gue dan mungkin temen-temen semua diajarin bahwa anak itu harus berbakti sama orangtua. Katanya; orangtua itu udah berjasa banget, karena udah ngebesarin, ngerawat, nyayangin kita, ngejaga kita. Katanya; turutin aja kata mereka, toh tujuan mereka baik. Katanya; apa yang mereka inginkan adalah yang terbaik untuk kita. Katanya; mereka ga akan menjerumuskan kita, karena mereka sayang sama kita. Katanya; kalo kita ga nurut dan ga berbakti, kita itu anak durhaka. Katanya; anak durhaka itu hukumannya berat banget, di neraka bahkan di dunia, bisa-bisa nanti kayak Malin Kundang. “Katanya”.

Beberapa tahun belakangan, ajaran itu udah mulai jarang gue denger. Gue malah banyak denger pendapat yang ngajak orang-orang jadi orangtua yang baik, bukan lagi jadi anak yang baik.

Sebelum dilanjutin, gue mau coba ajak temen-temen (terutama buat yang masih nganggep seorang anak harus berbakti sama orangtuanya) mikir sebentar. KENAPA seorang anak harus berbakti sama orangtuanya? KENAPA itu menjadi sebuah keharusan?

Untuk bisa jawab dua pertanyaan di atas, temen-temen bisa refleksi diri dulu. Buat yang belom punya anak, kalo temen-temen pengen punya anak nanti, tujuannya apa? Buat yang udah punya anak, kemaren pas pengen punya anak, tujuannya punya anak itu apa?

Karena anak itu waktu bayi lucu?
Karena semua orang itu kalo udah besar, menikah trus punya anak?
atau,
Supaya bisa disuruh-suruh pas anaknya udah besar? Makanya disuruh berbakti?

Hehehehe.

Yuk coba tempatin diri kita di perspektif anak-anak yang masih kecil. Apa mereka minta dilahirin? Seandainya iya pun, apa mereka minta dilahirin sebagai anak kita?

Jawabannya, engga. Mereka ga punya pilihan. Mereka adalah produk dan hasil dari pilihan yang dibuat sama orangtuanya.

Pernyataan “Anak harus berbakti sama orangtua” itu menurut gue menuntut seorang anak untuk berbakti sama orangtuanya. Ibaratnya orangtuanya ngasih anaknya HUTANG berupa perbuatan baik (ngerawat, ngebesarin, nyayangin, dan sebagainya) dan NAGIH itu di kemudian hari dengan bentuk bakti, padahal sang anak ga pernah minta dikasih hutang itu. Padahal sang anak ga minta dilahirkan (apalagi kalo dilahirkan buat diutangin balas budi). Padahal yang sebenernya pengen punya anak itu ya orangtuanya.

Gue bukan ngajak anak-anak untuk ngelawan dan ga nurut sama orangtuanya. Gue cuma pengen ngungkapin aja apa yang gue pikirin tentang penggunaan kata “harus berbakti” yang masih dianggep bener sama sebagian orang-orang, dan mungkin sama temen-temen sendiri. Menurut gue engga seharusnya begitu, karena gue pun kalo memutuskan mau jadi orangtua nanti ga bakal punya pikiran anak gue harus berbakti sama gue.

Seandainya gue punya anak:
Gue tau apa tujuan gue punya anak.
Gue yang memutuskan mau punya anak.
Gue tau tanggung jawab dan kewajiban gue sebagai orang tua ya memang ngerawat, nyayangin, dan hal-hal lain sebagai bentuk dukungan gue buat anak gue dari sejak dilahirkan sampe bisa hidup sendiri nanti (dan bahkan sampe gue atau anak gue meninggal).
Gue mempersiapkan dan memantaskan diri gue sebagai orangtua yang ideal sebelum punya anak.
Gue ga memaksakan pemikiran gue tentang “kewajiban seorang anak” ke anak gue, karena gue tau dia berhak punya definisinya sendiri, dan seandainya berbeda pun, gue tau gue adalah pihak yang seharusnya jadi lebih dewasa, dan kedewasaan itu memahami dan memaklumi yang lebih kekanakan.

Dan harapan gue adalah, dia nanti jadi orangtua yang baik untuk anaknya nanti.
Nerusin legacy dari gue.
Bukan jadiin dia boneka gue.
Bukan nuntut dia harus menjadi seperti mau gue.

Lagian kalo emang kita udah jadi orangtua yang baik, memenuhin semua kewajiban kita sebagai orangtua, selalu jadi pihak yang lebih dewasa yang ga berlindung di balik posisi kita, anak kita juga bakal respek dan berbakti ke kita secara otomatis, ya ga sih? Ga perlu dituntut “HARUS”.


Temen-temen boleh setuju, boleh engga. Monggo komentarin deh.

Wednesday, October 22, 2014

Sebuah Parodi


***

Alkisah, ada seorang muadzin bersuara jelek di negeri dengan penduduk mayoritas Kristen. Walaupun ia bersuara jelek, ia tetap percaya diri mengumandangkan adzan dan tak menghiraukan himbauan dari teman-temannya sesama muslim.

Hingga suatu ketika datanglah seorang pendeta kepada muadzin tersebut dan memberikan berbagai kemewahan dunia yang begitu melimpah sebagai tanda terimakasih yang mendalam sang pendeta kepada muadzin tersebut.

Karena penasaran, maka orang-orang Islam yang lainnya bertanya pada sang pendeta, "Wahai pendeta, kebaikan apakah kiranya yang anda peroleh dari seorang muadzin bersuara jelek ini?" 

Sang pendeta pun menjawab,
"Sesungguhnya aku mempunyai seorang putri jelita yg sangat aku sayangi dan kini sedang jatuh cinta pada seorang muslim yang saleh. Aku mengkhawatirkan, pada suatu saat nanti ia akan meninggalkanku dan agama yang kami peluk. Hingga di suatu pagi buta, putriku terbangun oleh suara adzan dan bertanya padaku, 'Ayah, suara jelek dan berisik apa itu?'

Aku pun menjawab , 'Itu adalah suara adzan, yakni panggilan sholat bagi umat Islam.'

Putriku langsung tercengang dan hampir tak percaya, bagaimana mungkin indahnya ajaran Islam yg selalu di tampilkan oleh kekasihnya memiliki panggilan beribadah sejelek itu?
Sejak saat itulah putriku menjauhi kekasihnya itu dan juga Islam untuk selamanya."

(Parodi di atas tertuang dalam al-Matsnawi, karya agung seorang sufi bernama Jalaluddin al-Rumi.)

Tuesday, August 19, 2014

Benefits of Taking an Older Woman as a Lover

"First and most obvious - they're wiser. And so this makes for far more stimulating conversation. Makes other things more stimulating as well. But more on that in a moment.

Second, when beauty fades, women must improve their utility - lest they be discarded and forgotten. Rare is an old woman who is not also kind, compassionate, and good.

Now onto third! Older women cannot conceive! Which means one less thing over which to fret in fact, you also decrease the chance of acquiring something like the French Pox - its presence clearly visible - or the woman dead.

(And should one desire a child?)

Then make a young woman your wife. Let the older one be a mistress. And that brings me to my fourth point: With age comes prudence. An older woman is less likely to reveal your indiscretions.

As to the fifth reason: Because in every animal that walks upright, the deficiency of the fluids that fill the muscles appears first in the highest part: the face first grows lank and wrinkled, then the neck, then the breast and arms; the lower parts continuing to the last as plump as ever. So that covering all above with a basket, and regarding only what is below the girdle, it is impossible of two women to know an old from a young one. And as in the dark all cats are grey, the pleasure of corporal enjoyment with an old woman is at least equal and frequently superior, every knack being by practice capable of improvement.

(You mad bastard! - LOL)

Well it's true. And believe me, I should know - I've sampled a great many. You should try one as well! Like a fine wine, they only improve with age. Although... I suppose if left unattended too long, some have tendency to sour. And that, my friend, is a most unpleasant experience. Better to work in a field often plowed, you know?

The sixth is this: the sin is less. To take a maidenhead is a great responsibility. Mishandled, it can ruin lives. No such risk with an older woman.

And this implies the seventh: younger women are more given to compunction. Anxiety and unease are not present in the more aged and experienced.

And as to the last of my reasons. Well, it really quite simple. Older woman are so very grateful for the attention."

—Benjamin Franklin, giving advice to Haytham Kenway in Assassin's Creed III

Thursday, June 26, 2014

Game of Thrones review: Sudut pandang seorang Fanboy

Gue bukan mau nulis review Game of Thrones season 4, tapi review seluruh ceritanya secara keseluruhan. Ya ada beberapa komentar sih tentang season 4, tapi bukan satu-satunya. Gue bakal ngebahas A Song of Ice and Fire, yang kalo di serial novel sampe buku ketiga (A Storm of Swords), yang kalo di serial tv sampe season 4.

Temen-temen yang mampir ke sini tapi belom nonton Game of Thrones sampe season 4, mendingan stop di sini karena gue bakal ngebahas jalan ceritanya sampe season 4. Buat yang udah, ikutan komentar ya biar bisa diskusi bareng. Tenang aja, gue ga akan ngasih spoiler melebihi cerita yang ada sekarang.

Langsung aja.

Kenapa namanya A Song of Ice and Fire? Gue ga pernah dapet jawaban pastinya, tapi gue punya dugaan sebenernya dongeng ini berpusat sama dua jalan cerita utama; Ice yang diwakili keluarga Stark yang tinggal di Winterfell yang dingin, sama Fire yang diwakili keluarga Targaryen yang hubungannya sama naga. “Ice” itu sendiri nama dari pedangnya Eddard Stark yang terbuat dari valyrian steel, yang akhirnya dipecah dua dan salah satunya dipegang Brienne yang namanya “Oathkeeper”. Sementara Fire, mungkin senjata utamanya Daenerys Targaryen, api yang disembur dari naga-naganya.

Di awal serial tv sama di novel, kita dikasih sekilas kengerian White Walkers/The Others. Setelah itu mulai cerita tentang keluarga Stark, yang terkait sama kematian Jon Arryn (kakak iparnya Catelyn, suaminya Lysa Tully, waktu itu Hand of the King Robert Baratheon). Jon Arryn ini udah dianggep bapak sama Eddard sama Robert, jadi kematiannya berat buat mereka berdua. Setelah itu Catelyn dikasih surat rahasia yang ternyata dari Lysa, yang bilang kalo Jon Arryn dibunuh Cersei Lannister pake racun. Muncul dugaan keluarga Lannister haus kekuasaan. Kebetulan Eddard diminta Robert buat gantiin Jon Arryn jadi Hand of the King (btw, ada peribahasa di novel tentang Hand of the King: the king eats, the Hand takes the shit). Catelyn akhirnya minta Eddard setujuin permintaan Robert, buat ngungkap kejahatan di balik kematian kakak iparnya, sekalian ngelindungin Robert. Akhirnya Eddard pergi ke King’s Landing, bawa beberapa anaknya. Karena Eddard pergi, Jon Snow juga harus ikut pergi karena Catelyn ga suka sama Jon. Akhirnya Jon gabung lah sama Night’s Watch.

“The king eats, the Hand takes the shit. 

Dan akhirnya dari situ mulai macem-macem tragedi yang menimpa keluarga Stark, sampe sekarang ini. Di season 4 episode 7 di serial tv, sebelum Lysa didorong sama Petyr Baelish, dia bilang kalo sebenernya otak pembunuhan Jon Arryn itu Petyr. Gue baru sadar belakangan ini, kalo ternyata si Petyr Baelish alias Littlefinger adalah biang kerok semua drama yang terjadi di ASoIaF atau GoT. Mungkin tadinya dia cuma pengen nyingkirin Eddard buat bisa dapetin Catelyn. Mungkin dia ga nyangka bakal bikin Catelyn ikut sengsara. Mungkin dia juga ga nyangka efek konspirasinya lebih besar dari sekedar ngancurin satu keluarga, tapi satu realm, Seven Kingdoms.

Obsesi banget sama Catelyn sih kayaknya. Dia perlu belajar di Hitman System kayak gue.

Anyway, buat gue season 4 kemaren adalah season yang paling banyak bunuh tokoh, paling banyak scene yang bikin merinding, paling bikin jatuh cinta sama Tyrion Lannister dan konco-konconya. Paling bikin kagum sama Jon Snow juga. Oh iya, season ini juga ngubah kebencian gue ke Jaime Lannister jadi rasa hormat dan respek.

Menurut gue, ada dua tipe fans serial tv Game of Thrones. Tipe pertama, yang ngerasa klimaks di setiap season itu ada di episode 9 (season 1 Eddard dipenggal, season 2 Battle of Blackwater, season 3 The Red Wedding, season 4 Battle of Castle Black). Tipe kedua, yang ngerasa klimaksnya ada di season finale, episode 10. Ada beberapa temen gue tipe kedua; sementara gue sendiri tipe yang pertama, dan kecewa banget sama episode 10 di season 4 kemaren. Mungkin bakal puas kalo ada satu tokoh yang gue tunggu-tunggu, tapi ternyata ga muncul. Yowes lah, mau diapain lagi.

Soal siapa ibunya Jon Snow, ada teori yang beredar di internet (R+L=J) yang udah jadi rahasia umum. Gue sendiri belom pasti yakin teori itu bener, siapa tau ini celah buat dijadiin twist cerita lagi sama George R. R. Martin. Gue ga sabar pengen tau siapa sebenernya ibunya, pengen tau juga jalan cerita masa lalunya.

Gitu aja mungkin review pertama gue. Sebagai penutup, gue mau ngasih saran buat temen-temen yang cuma nonton serial tv. Baca novelnya! Di novel pertanyaan-pertanyaan lo bakal kejawab, karena digambarin jelas sifat setiap karakter. Lo bakal ngerasain apa yang mereka rasain. Adegan yang ada di novel, jauh lebih keren dibanding yang ada di serial tv. Serius, baca deh. Cari di toko buku impor macem Periplus, Kinokuniya, atau Books and Beyond. Mumpung lagi liburan kan. Worth it kok harganya sama apa yang lo dapet dari novelnya.


Monggo komentarnya, yuk diskusi bareng!